Kisah Orang Buta dan Gajah

image

Suatu ketika seorang Raja di India
utara memerintahkan pegawai
pegawainya untuk mengumpulkan
orang orang yang buta sejak lahir
ke istana kota raja. Sang raja juga
memerintahkan pegawainya untuk
membawa seekor gajah ke istana.
Orang orang buta ini sepanjang
hidupnya belum pernah sama
sekali mengerti apa itu gajah.
Mereka tidak tahu seperti apakah
gajah itu. Sekarang sang raja
memerintahkan mereka untuk
menyentuhnya. Mereka hanya
diperbolehkan menyentuh bagian
bagian tertentu saja, bukan gajah
secara keseluruhan. Dengan cara
demikian sang raja akan mendapat
hiburan. Setelah beberapa waktu
menunggu, mereka dipersilahkan
mengatakan, bagaimana dan apa
itu gajah.
Seorang buta yang telah meraba
bagian kakinya membandingkan
gajah dengan gelondong kayu.
Seorang buta yang telah meraba
perutnya membandingkannya
dengan sebuah balon. Seorang
buta yang telah meraba gadingnya
membandingkannya dengan
sebatang kayu yang bulat dan
halus. Seorang buta yang telah
meraba kepalanya
membandingkannya dengan sebuah
panci. Seorang buta yang telah
meraba belalainya
membandingkannya dengan selang
air. Akhirnya seorang buta lain
yang telah meraba bagian ekornya
tidak mau ketinggalan. Ia
membandingkan seekor gajah
dengan tali tambang yang sudah
rusak.
Masing masing dari mereka
memiliki penjelasannya sendiri
tentang seekor gajah. Karena
gambaran mereka tentang gajah
berbeda, mulailah mereka
bertengkar. Masing masing sangat
yakin bahwa hanya
penjelasannyalah yang paling
benar dan kepunyaan yang lainnya
salah. Akhirnya mereka saling
berantem dan dengan demikian
sang raja terhibur.
Siapakah yang salah dan siapakah
yang benar ? Adakah seorang dari
mereka memiliki kebenaran ? Yang
pasti sang rajalah yang salah
karena telah mempermainkan
orang buta. Bagi orang orang buta
sejak lahir sangatlah sulit. Masing
masing dari mereka telah
menggambarkan dengan tepat apa
yang mereka rasakan. Mereka telah
melakukannya dengan benar.
Masing masing mengatakan
kebenaran. Tak seorang pun
berbohong karena mereka hanya
diperbolehkan meraba bagian
bagian tertentu saja, tidak gajah
secara keseluruhan.
Kesalahan dari masing masing
orang buta tersebut bukan soal
kualitas dari penjelasannya,
melainkan keyakinan dan
pernyataan tentang gajah secara
keseluruhan dan menganggap
penjelasannyalah yang paling
benar. Tak seorang pun memiliki
gagasan bahwa masing masing
hanya menjelaskan satu bagian
saja. Seandainya mereka sadar
bahwa mereka hanya menjelaskan
satu bagian saja, sebenarnya
mereka mampu mengerti
kebenaran gajah secara
keseluruhan.
Pesan moral:
Barangsiapa mau membagi
pengetahuan dengan orang lain, ia
tak akan sedikit pun kehilangan.
Justru sebaliknya, jika pengetahuan
dibagi, pengetahuannya tidak akan
berkurang melainkan bertambah.
Kita manusia memang seperti
dongeng orang orang buta ini. Kita
tetap buta, kita mirip mereka ini :
1. Kita hanya mengambil sebagian
(secuil) dari keseluruhan sebuah
kenyataan.
2. Kita hanya memahami sebagian
(secuil) dari kekomplekan sebuah
kenyataan.
3. Kita hanya memegang sebuah
pengertian yang terbatas dari
seluruh kenyataan.
4. Kita hanya ingin selalu melawan
dan menentang apa yang berbeda
dari kita.
5. Kita berjuang mati matian
mempertahankan pernyataan kita
sebagai satu satunya kebenaran.
6. Kita hanya ingin tampak pandai
dengan perselisihan, bukan
belajar.
7. Kita harus bertindak ini
(menerima, mendengarkan dan
memahami apa yang dikatakan
orang lain), jika kita ingin
mengetahui lebih banyak.

Sumber Kaskus

keterangan alternative

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s