tarawangsa

Tarawangsa adalah alat musik sederhana dari nenek moyang, berbentuk seperti rebab, dengan dua buah kawat untuk digesek. Awalnya digunakan dalam acara Ormatan, hiburan para petani untuk merayakan syukuran panen.

Ormatan maksudnya untuk menghormat Syariat (para tamu), dan hakikat (para leluhur). Yang membuatnya para wali yang telah beragama islam.
Tarawangsa (Tatabeuhan Rakyat Wali Salapan). Dulu hanya dirayakan saat menjelang ataupun setelah panen, kini dilaksanakan dalam berbagai perayaan mulai dari khitanan, syukuran rumah, hingga perayaan proklamasi kemerdekaan.

Tarawangsa menggunakan dua kawat (kawat bekas pun jadi, tak perlu kawat yang bagus) yang maksudnya bahwa kehidupan manusia itu berpasangan, ada lelaki-perempuan, ada baik-buruk, ada umur pendek-umur panjang, namun itu adalah kekuasaan Tuhan.
Selain Tarawangsa, dalam Ormatan pun digunakan alat musik Kacapi, memiliki kepanjangan (hiji keucap kudu neupi), artinya setiap ucapan atau amanat nenek moyang harus sampai ke anak cucu.

Kacapi ini memiliki tujuh senar (kawat) yang maksudnya bahwa apa pun pekerjaan manusia, dilalui dalam tujuh hari. Berbeda dengan kecapi lain pada umunya yang memiliki senar lebih banyak, kecapi ini memiliki nada yang berbeda karena datang langsung secara gaib.Selain untuk hiburan petani, maksud dari pertunjukan Ormatan adalah bahwa agama Islam janganlah hanya sebagai pengakuan saja, namun harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Awalnya Tarawangsa hanya ada di Rancakalong, namun setelah banyak masyarakat Rancakalong yang menyebar maka Tarawangsa pun ikut menyebar. Siapa pun boleh belajar memainkan Tarawangsa, karena mudah. Kini di daerah Rancakalong, kesenian Tarawangsa telah menjadi salah satu pelajaran muatan lokal, di berbagai tingkat sekolah. Sehingga sering dilaksanakan misalnya saat kenaikan kelas.

Masyarakat sangat apresiatif pada kesenian Tarawangsa ini. Sebelum pelaksanaan pagelaran, tidak memerlukan persiapan atau ritual khusus kecuali bagi pemain yang memiliki maksud tertentu seperti untuk pengobatan, dimandikan terlebih dahulu.
Selain musik dari Tarawangsa dan kacapi, dalam Ormatan juga dilaksanakan tarian hormatan untuk para tamu dan leluhur dengan lelaki dan perempuan tampil secara bergantian. Hal ini mengandung makna bahwa keberhasilan dalam panen tidak akan terjadi tanpa kerjasama dari perempuan dan laki-laki.

Tarawangsa mulai muncul pada abad ke-18. Sempat dilarang oleh penjajah karena mereka menganggap bahwa kesenian seperti Tarawangsa dalam mempersatukan para seniman dan warga yang begitu kuat. Sehingga masyarakat mengakalinya dengan menyembunyikan alat ini di hutan-hutan di antara bukit-bukit.

Walau terjadi kejar-kejaran dengan penjajah. Perjuangan masyarakat dalam mempertahankan Tarawangsa di tengah larangan penjajah bermula saat adanya kejadian mati suri selama sehari semalam dari salah seorang tetua di kampung (paman pak Sukarma). Setelah sadar, ia bercerita bahwa ia bertemu dengan leluhur, berpesan bahwa agar memperoleh kembali kehidupan yang seperti dulu, maka harus menjalankan kembali kegiatan-kegiatan yang dulu dilakukan oleh leluhur, termasuk Tarawangsa.
Sehingga dalam menjalankan kesenian Tarawangsa, tidak boleh sembarangan karena dituntun oleh unsur gaib, yaitu (suara tanpa wujud).

Kesenian Tarawangsa pimpinan Pak Sukarma sering dipakai oleh berbagai individu, maupun badan, baik pemerintah ataupun swasta. Namun perhatian dari Disbudpar dirasa lemah. Jarang ada perhatian dari Disbudpar Sumedang. Dalam setahun sekali diadakan acara syukuran besar setiap tanggal 1-10 bulan Juli, di mana masyarakat melaksanakan Tarawangsa dan kesenian lain, dengan peran serta masyarakat saling bergotong royong dalam menyediakan makanan. Acara ini biasa dihadiri oleh Bupati Sumesang.
Lagu yang dimainkan dalam kesenian ini adalah lagu-lagu tentang keberhasilan panen yang dilakukan secara bertahap. Bpk Sukarma sering diminta bantuan oleh berbagai pihak termasuk akademisi atau mahasiswa misalnya untuk membantu pembuatan skripsi dll.

(wikipedia.com ; wawancara Bpk Sukarma)

 

Download:

Angin-angin

Buncis

Degung

Jemplang

Limbangan – Badud

Pamapag

Panimbang – Limbangan

Sirna Galih

Tarawangsa

Tarawangsa 4

 

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s