Dana BOS untuk Guru Honor akan dibatasi 20 %

JAKARTA: Wamendiknas Falil Jalal membenarkan dalam petunjuk teknis (juknis) penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) 2011 akan ada pembatasan untuk belanja pegawai termasuk membayar guru honorer di sekolah maksimal 20%.

”Pada dasarnya peruntukan dana BOS untuk biaya operasional sekolah, tidak untuk gaji dan membayar honorarium. Pembatasan itu dilakukan supaya lebih tertib dan tidak semena-mena mengangkat tenaga honor,” tegas Fasli hari ini.

Sebelumnya, Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Sulistiyo mengungkapkan adanya kegelisahan yang mendalam di kalangan guru honorer akibat pembatasan penggunaan dana BOS untuk belanja pegawai termasuk dana untuk honorarium maksimal 20% itu.

Akibat aturan baru tersebut, ungkap Sulistiyo, sekitar 1.600 guru tidak tetap di Surabaya di-PHK secara halus oleh Pemkot Surabaya melalui dinas pendidikan setempat. Dia menilai peraturan tersebut sangat tidak fleksibel sehingga banyak kepala sekolah yang terpaksa mengurangi jam mengajar atau bahkan memberhentikan guru honorer akibat dana untuk membayar gaji menjadi terbatas.

Fasli menambahkan bahwa pemerintah telah memberikan toleransi karena sumber dana pembayaran honorarium masih belum dibicarakan dengan DPR. Karena di sekolah swasta dana BOS diperbolehkan untuk membayar gaji guru, maka di sekolah negeri diberi kelonggaran untuk menggunakan sedikit demi sedikit.

Hanya saja pada pelaksanaan di lapangan, kata Fasli, pada sekolah negeri ternyata pengunaan dana BOS untuk honorarium seringkali berlebihan sehingga mengganggu tujuan utama dari dana BOS yang untuk membiayai operasional sekolah.

“Jadi tampaknya sudah kebablasan penggunaannyadan mengorbankan kegiatan-kegiatan operasional atas nama membayar honor. Makanya dilimit 20% saja,” tandas Mantan Dirjen Pendidikan Tinggi ini.

Jika aturan baru tentang tenaga honorer selesai disusun, pengaturan tentang sumber dana dan lainnya akan lebih jelas. Dalam aturan baru tersebut juga akan diatur tentang siapa saja yang boleh mengangkat honor, atas dasar apa tenaga honor diangkat.

Sulistiyo mengkhawatirkan peraturan itu berpotensi menimbullkan pengangguran baru. Terlebih lagi kebutuhan sekolah di daerah akan tenaga honorer sangat tinggi.  Bahkan tidak sedikit sekolah yang rasio tenaga pendidiknya justru lebih banyak guru honorer ketimbang guru yang berstatus PNS. (msw)

 

sumber

  1. #1 by satya on Februari 13, 2011 - 4:40 pm

    coba tlg dianalisa kenyataan ini !!!
    Menkeu dg sigap mngusulkan agar gaji Pres yg 62 jt lebih/bulan itu dan 8.000 pejabat (termasuk Fasli Jala) .. SEGERA dinaikkan gajinya .. Sementara, ada honorer di sebuah sekolah yg gaji perbulannya 0,35 jt, krn peraturan yg 20% dr BOS itu MALAH diturnkan mjd 0,3 jt saja .. REPUBLIK APA INI ??? Apakah salah kalau Negara ini byk bencana .. ygdi Sidoarjo sj blm tuntas urusannya tp Pejabat lgsung tuntas hasratnya !!! Subsidi BBM dr minyak ke gas (dg korban yg berjatuhan dikalangan rakyatnya) dan rencana pembatasan BBM bersubsidi (lagi2) bg rakyat di pompa bensin trus dipaksakan .. alasannya utk berhemat .. Rakyat pasrah dlm penderitaan .. tp kok uangnya SEKARANG malah dipakai para Pejabat dan anggota DPR utk menaikkan gajinya (dg mengurangi gaji para Honorer pula) .. REPUBLIK APA INI ??? -jwban smntaranya : REPUBLIK EDANE lah !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s