IDUL ADHA DAN QURBAN

@Ibadah kurban adalah suatu aktifitas penyembelihan / menyembelih hewan ternak yang dilakukan pada tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah atau disebut juga hari tasyrik / hari raya haji / lebaran haji / lebaran kurban / Idul Adha dengan niat untuk beribadah kepada Allah SWT.

Hukum ibadah kurban / qurban adalah sunat muakkad atau sunah yang penting untuk dikerjakan. Waktu pelaksanaan acara qurban adalah dari mulai matahari sejarak tombak setelah sholat idul adha tanggal 10 bulan haji sampai dengan matahari terbenam pada tanggal 13 bulan haji.

@Imam Syafi’i  berpendapat hukum melakukan ibadah qurban ini adalah sunat Muakkadah iaitu sunnah yang amat digalakkan atau dituntut  ke atas setiap individu Muslim yang merdeka, berakal, baligh lagi rasyid serta berkemampuan melakukannya sama ada sedang mengerjakan haji ataupun tidak sekurang-kurangnya sekali seumur hidup.

Makruh meninggalkan ibadah ini bagi orang yang mampu melakukannya.

Hukum qurban ini menjadikan wajib jika seseorang itu telah bernazar untuk melakukannnya atau telah membuat penentuan (at-ta’yin) untuk melaksanakannya seperti seseorang berkata “lembu ini aku jadikan qurban”. Jika tidak dilakukan dalam keadaan ini maka hukumnya adalah haram.

JENIS HEWAN QURBAN

1.KAMBING/DOMBA


Seekor kambing juga mencukupi untuk satu orang dan keluarganya, walaupun mereka banyak jumlahnya. Ini menurut pendapat yang rajih, dengan dalil hadits Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
“Dahulu di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seseorang menyembelih qurban seekor kambing untuknya dan keluarganya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1510, Ibnu Majah no. 3147. At-Tirmidzi rahimahullahu berkata: “Hadits ini hasan shahih.”)
Juga datang hadits yang semakna dari sahabat Abu Sarihah radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Ibnu Majah rahimahullahu (no. 3148). Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Shahihul Musnad (2/295) berkata: “Hadits ini shahih sesuai syarat Syaikhain.”

2.SAPI DAN UNTA

Menurut jumhur ulama, diperbolehkan 7 orang atau 7 orang beserta keluarganya berserikat pada seekor unta atau sapi. Dalilnya adalah hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
“Kami pernah menyembelih bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu Hudaibiyyah seekor unta untuk 7 orang dan seekor sapi untuk 7 orang.” (HR. Muslim no. 1318, Abu Dawud no. 2809, At-Tirmidzi no. 1507)
Demikianlah ketentuan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masyhur di kalangan kaum muslimin, dahulu maupun sekarang.

SYARAT HEWAN QURBAN

1. JENIS KELAMIN

.Dalam berqurban boleh menyembelih hewan jantan atau betina, tidak ada perbedaan, sesuai hadits-hadits Nabi SAW yang bersifat umum mencakup kebolehan berqurban dengan jenis jantan dan betina, dan tidak melarang salah satu jenis kelamin

2.KONDISI HEWAN

Berdasarkan hadits-hadits Nabi SAW, tidak dibenarkan berkurban dengan hewan :

1. yang nyata-nyata buta sebelah,
2. yang nyata-nyata menderita penyakit (dalam keadaan sakit),
3. yang nyata-nyata pincang jalannya,
4. yang nyata-nyata lemah kakinya serta kurus,
5. yang tidak ada sebagian tanduknya,
6. yang tidak ada sebagian kupingnya,
7. yang terpotong hidungnya,
8. yang pendek ekornya (karena terpotong/putus),
9. yang rabun matanya.

HUKUM MENJUAL KULIT HEWAN QURBAN

Tidak boleh hukumnya menjual kulit hewan kurban. Demikianlah pendapat jumhur ulama tiga mazhab (Imam Maliki, Syafi’I, dan Ahmad). Hukum ini berlaku bagi pekurban dan juga berlaku bagi siapa saja yang mewakili pekurban, misalnya takmir masjid atau panita kurban pada suatu instansi.

Dalil haramnya menjual kulit kurban ada dua, yaitu hadits-hadits Nabi SAW yang melarang menjual kulit kurban dan hukum syar’i bahwa status kepemilikan kambing kurban telah lenyap dari pekurban pada saat kurban disembelih.

Hadits-hadits Nabi SAW itu diantaranya:

Dari Ali bin Abi Thalib ra, dia berkata, “Rasulullah SAW telah memerintahkan aku mengurusi unta-unta beliau (hadyu) dan membagikan daging-dagingnya, kulit-kulitnya…untuk kaum miskin. Nabi memerintahkanku pula untuk tidak memberikan sesuatu pun darinya bagi penyembelihnya (jagal) sebagai upah” (Muttafaq ‘alaihi)

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Bersabda; “Barangsiapa menjual kulit kurbannya, maka tidak ada (pahala) kurban baginya.” (HR. Al Hakim & Al Baihaqi)

Dari hadist ini para ulama menyimpulkan haramnya pekurban untuk menjual kulit kurbannya. Adapun kedua, berupa hukum syara’ tentang status kepemilikan kambing kurban.

Pada saat disembelih, hilanglah kepemilikan kurban dari pekurban. Maka dari itu, jika pekurban atau wakilnya menjual kulit kurban, sama saja dia menjual sesuatu yang bukan miliknya lagi.

Ini jelas tidak boleh. Jadi, jelaslah bahwa menjual kurban itu haram hukumnya. Haram pula menjadikan kulit kurban sebagai upah kepada jagal (penyemberlih) kurban. Lalu kulit kurban akan diapakan? Kulit kurban itu dapat disedekahkan oleh al mudhahhi (shahibul kurban) kepada fakir dan miskin. Inilah yang afdhol (utama).

Wallohualam…..

  1. #1 by aki zahra on Oktober 7, 2010 - 12:33 am

    harus siap siap dari sekarang nih kumpulin uangnya bwt beli hewab kurban

  2. #2 by panjoelsengeh on Oktober 7, 2010 - 7:30 am

    Muhun atuh gan teu karaos nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s