BLACK ROOM

Ternyata mata tak sanggup menggambarkan seperti
Apa yang hati lukiskan
Juga lidah tak bisa menuturkan semerdu lagu
Apa yang hati nyanyikan
Tangan tak mampu menggenggam sepenuh janji yang di tekadkan pada hati
Langkahnya kaki selalu di belakangi hati
Tak punya harapan tuk melewati
Hati yang paling dalam, ataukah hati yang paling berpaling
Kini hanya ada aku
Dan pilihan – pilihan semu
Cinta dan nafsu belum nampak wujud dan rupanya
Kasih dan benci saling terikat tak mudah di sekat
Lalu dimana kekuatan yang dengan mudah bisa melepas semua itu
Lupakan kejadian kemaren dan menguburnya dalam – dalam
Lalu tancapkan batu nisan di atasnya agar semua yang melihat tahu
Setiap yang mengamati mengerti
Bahwa aku telah mati bersama rangkai – rangkai mimpi
Bahwa aku sudah tumbang meninggalkan beberapa angan
Terlalu lemah asa untuk membangun jiwa yang kuat
Terlelap dengan tidur pagi dan secangkir coffee
Remuk ragaku bila harus membenci semua yang di musuhi
Rapuh tulangku mengasihi setiap yang di benci
Luluhlah aku dengan segala keterbatasanku
Bersandar pada perasaan yang tidak tepat saatnya
Sekelumit permasalahan yang singgah terasa, betapa membuat lelah
Bertubi – tubi janji di ingkari dan di ingkari
Ratapi diri, mengapa ini yakin terjadi
Betapa mudah ucapan mendangkalkan pemahaman yang dalam
Lirik sana – sini hanya untuk mencari kepastian
Menjadi benteng pertama awal rasa di ciptakan

Ternyata mata tak sanggup menggambarkan sepertiApa yang hati lukiskanJuga lidah tak bisa menuturkan semerdu laguApa yang hati nyanyikanTangan tak mampu menggenggam sepenuh janji yang di tekadkan pada hatiLangkahnya kaki selalu di belakangi hatiTak punya harapan tuk melewatiHati yang paling dalam, ataukah hati yang paling berpalingKini hanya ada akuDan pilihan – pilihan semu
Cinta dan nafsu belum nampak wujud dan rupanyaKasih dan benci saling terikat tak mudah di sekatLalu dimana kekuatan yang dengan mudah bisa melepas semua itu
Lupakan kejadian kemaren dan menguburnya dalam – dalamLalu tancapkan batu nisan di atasnya agar semua yang melihat tahuSetiap yang mengamati mengertiBahwa aku telah mati bersama rangkai – rangkai mimpiBahwa aku sudah tumbang meninggalkan beberapa angan
Terlalu lemah asa untuk membangun jiwa yang kuatTerlelap dengan tidur pagi dan secangkir coffeeRemuk ragaku bila harus membenci semua yang di musuhiRapuh tulangku mengasihi setiap yang di benciLuluhlah aku dengan segala keterbatasanku
Bersandar pada perasaan yang tidak tepat saatnyaSekelumit permasalahan yang singgah terasa, betapa membuat lelahBertubi – tubi janji di ingkari dan di ingkariRatapi diri, mengapa ini yakin terjadiBetapa mudah ucapan mendangkalkan pemahaman yang dalamLirik sana – sini hanya untuk mencari kepastianMenjadi benteng pertama awal rasa di ciptakan

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s